Pendekatan Open-Ended meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Pada Penbelajaran Matematika
Oleh : Mardiana, S.Pd.I
ABSTRAK
Manusia kreatif sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi dan merespon secara efektif ketidak menentuan perubahan dunia saat ini. Perkembangan kebudayaan dan peradaban di dunia ini juga terjadi berkat kreativitas orang-orang yang istimewa dalam berbagai sektor kehidupan seperti politik, ekonomi, militer, sain, teknologi, pendidikan, agama, kesenian, bisnis, dan lain-lain. Karya-karya kreatif dalam berbagai sektor kehidupan tersebut penting peranannya karena sebagian besar dapat menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada di dunia. Oleh karenanya kreativitas menjadi esensial sifatnya dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini.
Pembelajaran matematika memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif, dan bekerja sama yang diperlukan siswa dalam kehidupan modern. Seperti tercantum dalam salah satu tujuan pembelajaran matematika dalam Kurikulum 2004 bahwa melalui pembelajaran matematika siswa dapat mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba- coba. Oleh karena itu pembelajaran matematika memiliki sumbangan yang penting untuk perkembangan kemampuan berpikir kreatif dalam diri setiap individu siswa agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dapat memberikan keleluasaan siswa untuk berpikir secara aktif dan kreatif adalah pendekatan open-ended. Pernyataan ini didasari oleh pendapat Heddens dan Speer (1995:30) yang menyatakan bahwa pendekatan open-ended bermanfaat untuk meningkatkan cara berpikir siswa. Pendekatan open-ended merupakan salah satu pendekatan yang membantu siswa melakukan pemecahan masalah secara kreatif dan menghargai keragaman berpikir yang mungkin timbul selama proses pemecahan masalah.
PENDAHULUAN
Menurut Harris (1998) banyak pemikiran yang dilakukan dalam pendidikan matematika formal hanya menekankan pada keterampilan analisis -mengajarkan bagaimana siswa memahami klaim-klaim, mengikuti atau menciptakan suatu argumen logis, menggambarkan jawaban, mengeliminasi jalur yang tak benar dan fokus pada jalur yang benar. Sedangkan jenis berpikir lain yaitu berpikir kreatif yang fokus pada penggalian ide-ide, memunculkan kemungkinan-kemungkinan, mencari banyak jawaban benar daripada satu jawaban kurang diperhatikan.
Kreativitas sering menjadi topik yang diabaikan dalam pengajaran matematika. Umumnya orang beranggapan bahwa kreativitas dan matematika tidak ada kaitannya satu sama lain. Para matematikawan sangat tidak setuju dengan pandangan seperti itu. Mereka berpendapat bahwa menurut pengalaman mereka kemampuan fleksibilitas yang merupakan salah satu komponen berpikir kreatif adalah kemampuan yang paling penting bagi seorang pemecah masalah yang berhasil (Pehkonen, 1997). Guru matematika juga biasanya berpikir bahwa hanya logika yang paling pertama diperlukan dalam matematika, dan bahwa kreativitas tidak penting dalam belajar matematika. Padahal di lain pihak seorang matematikawan yang mengembangkan produk atau hasil baru tidak dapat diabaikan potensi kreatifnya. Menurut Silver (1997) pengajar matematika dapat memandang kreativitas tidak hanya sebagai wilayah yang dimiliki oleh individu luar biasa berbakat tetapi juga merupakan sebuah kecenderungan atau arahan terhadap kegiatan matematika yang dapat ditingkatkan secara luas di sekolah umum.
Agar siswa memiliki kreatifitas yang tinggi dalam pembelajaran matematika pendekatan open ended bisa dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan tersebut.
PEMBAHASAN
Beragam metoda pembelajaran telah dikembangkan oleh para praktisi dan penulis pendidikan dalam upaya mengatasi dan mengeliminasi masalah pendidikan yang terjadi di lapangan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif diperlukan suatu cara pembelajaran dan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kemampuan tersebut. Schoenfeld (1992) mengatakan bahwa perlu adanya perubahan dalam kurikulum dan pembelajaran matematika yang melibatkan usaha-usaha baru seperti dalam mencari jawaban (tidak hanya menghafal prosedur), menggali pola (tidak hanya mengingat), merumuskan konjektur (tidak hanya mengerjakan latihan).
Pengertian pendekatan open-ended menurut Shimada (1997) adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metoda atau penyelesaian yang lebih dari satu. Pendekatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik. Dalam prosesnya pembelajaran ini menggunakakan soal-soal open-ended sebagai alat pembelajarannya.
Berdasarkan kenyataan bahwa tingkat kemampuan kreativitas anak-anak Indonesia yang masih rendah serta arti dan peranan penting kreativitas dalam kehidupan, dengan demikian perlu untuk memberikan sebuah lingkungan belajar bagi siswa-siswa sekolah yang dapat mengembangkan kemampuan kreatif mereka. Mengacu pada pendapat bahwa pendekatan open-ended yang dapat memberi kesempatan siswa berperan aktif dan mendorong cara berpikir siswa (Shimada, 1997, Heddens & Speer, 1995).
Pendekatan open-ended mulai dikembangkan di Jepang pada tahun 70-an, dan semenjak itu guru-guru di Jepang menggunakan pendekatan ini dalam pembelajaran matematika di sekolah. Shimada (1997:1) menyatakan bahwa Pendekatan open-ended adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki lebih dari satu jawaban atau metoda penyelesaian. Menurut Shimada pendekatan ini memberi siswa kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali dan memecahkan masalah dengan beberapa cara berbeda.
Menurut Nohda (2001) tujuan pembelajaran dengan pendekatan open-ended adalah mendorong kegiatan kreatif dan pemikiran matematik siswa dalam memecahkan masalah matematika secara simultan. Dalam pelaksanaannya siswa diminta untuk memecahkan masalah dengan membiarkan siswa mengembangkan cara berpikirnya dan menggunakan strategi penyelididkan masalah yang meyakinkan baginya. Pendekatan ini memberi keleluasaan kepada siswa untuk melakukan elaborasi lebih besar sehingga memungkinkan bertambahnya kemampuan berpikir matematiknya dan meningkatnya kegiatan kreatif untuk setiap siswa.
Hashimoto (1997) mengatakan bahwa metoda pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas matematik di lingkungan sekolah adalah pendekatan open-ended dan pendekatan dari masalah ke masalah (from problem to problem). Pendekatan open-ended diartikan sebagai pendekatan yang dimulai dengan menyajikan soal yang tak lengkap, dan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan banyak pendekatan atau cara yang benar dalam memecahkan soal yang diberikan.
Pendekatan open-ended dalam pelaksanaannya dilakukan melalui kegiatan membahas dan memecahkan masalah, sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan problem solving ataupun problem posing. Asumsinya adalah proses lebih utama daripada hasil. Kedua pendekatan tersebut menekankan pada upaya pemecahan masalah, dengan merumuskan permasalahannya terlebih dahulu. Dalam pendekatan open-ended terdapat keragaman dalam penyelesaian ataupun metoda penyelesaiannya. Pendekatan ini memberi keleluasaan kepada siswa untuk mengemukakan jawaban secara aktif dan kreatif.
Seiring dengan penggunaan pendekatan open-ended sejak tahun 70-an, soal-soal open-ended banyak dikembangkan oleh guru-guru di Jepang. Soal-soal tersebut banyak dipakai dalam pembelajaran matematika dari SD sampai SMA (Shimada, 1977). Soal open-ended didefinisikan sebagai soal yang memiliki beberapa jawaban benar atau memiliki beberapa cara untuk memecahkan masalah dengan benar. Soal-soal open-ended sering dipakai sebagai soal asesmen karena dalam menjawab soal seperti itu setiap siswa tidak hanya diminta menunjukkan pekerjaannya tetapi juga harus menjelaskan bagaimana dia memperoleh jawabannya dan mengapa memilih metoda yang dipakainya (Schoenfeld, 1985).
Menurut Hancock (1995:496) soal open-ended adalah soal yang memiliki lebih dari satu cara penyelesaian yang benar, mempunyai lebih dari satu jawaban benar dan siswa dapat menjawabnya dengan caranya sendiri tanpa harus mengikuti proses pengerjaan yang sudah ada. Demikian juga Berenson dan Garter (1995:183) mengidentifikasi masalah open-ended sebagai tipe masalah yang mempunyai banyak penyelesaian dan banyak cara penyelesaian. Coxford dan Seenmark (dalam Hancock, 1995: 497) mengemukakan bahwa nilai dari soal-soal open-ended, bukan hanya terletak pada format dan materi yang terkandung dalam soal, melainkan sangat ditentukan oleh prosedur, suasana dan cara penyelesaiannya. Dengan demikian berdasarkan pendapat-pendapat diatas, ciri terpenting dari soal open-ended adalah tersedianya kemungkinan banyak jawaban serta tersedia keleluasaan bagi siswa untuk memakai sejumlah metoda yang dianggapnya paling sesuai dalam menyelesaikan soal itu.
Jenis masalah yang digunakan dalam pembelajaran melalui pendekatan open-ended adalah masalah yang tidak rutin dan bersifat terbuka. Sedangkan dasar keterbukaannya (openness) dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yakni: process is open, end products are open, dan ways to develop are open. Proses terbuka maksudnnya adalah tipe soal yang diberikan mempunyai banyak cara penyelesaian yang benar. Hasil akhir yang terbuka, maksudnya adalah tipe soal yang diberikan mempunyai jawaban yang banyak (multiple). Sedangkan maksud cara pengembangan lanjutannya terbuka adalah ketika siswa telah selesai menyelesaikan masalah awal mereka dapat menyelesaikan masalah baru dengan mengubah kondisi dari masalah yang pertama (asli). Dengan demikian pendekatan ini selain membuat siswa dapat menyelesaikan masalah tetapi juga dapat mengembangkan masalah baru (from problem to problem).
Penyelesaian soal-soal dalam pembelajaran matematika tidak mesti dengan satu cara saja, Jawaban dari pertanyaan terbuka dapat bermacam-macam dan tidak terduga. Pertanyaan terbuka dapat menyebabkan yang ditanya membuat hipotesis, perkiraan, mengemukakan pendapat, dan menarik kesimpulan (Ruseffendi, 1991:256), memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh wawasan baru (new insight) dalam pengetahuan mereka (Hancock, 1995). Dengan adanya tipe soal terbuka guru berpeluang untuk membantu siswa dalam memahami dan mengelaborasi ide-ide matematika siswa sejauh dan sedalam mungkin (Nohda, 2000:41) dan memungkinkan siswa untuk berpikir lebih leluasa, komprehensif tanpa harus kehilangan konteksnya (Badger (1992:1)
Sawada (dalam Shimada, 1977) menjelaskan lima keuntungan pemecahan masalah open-ended. Lima keuntungan tersebut adalah:
1) Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pelajaran dan lebih mudah mengungkapkan ide-idenya. Pemecahan masalah open-ended memberikan lingkungan pembelajaran yang bebas, responsif, dan mendukung karena banyak jawaban benar sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk memperoleh jawaban sendiri. Dengan demikian siswa memiliki keinginan untuk mengetahui jawaban yang lain, dan mereka dapat membandingkan dan mendiskusikan solusi masing-masing. Karena siswa sangat aktif maka hal tersebut akan membawa semua siswa pada percakapan yang menarik dalam kelas tersebut.
2) Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk memakai pengetahuan yang komprehensif dan keterampilan matematiknya. Karena banyak solusi berbeda maka semua siswa dapat memilih cara yang paling mereka sukai dan menciptakan solusi mereka sendiri.
3) Setiap siswa dapat merespon soal dalam beberapa cara berbeda menurut caranya sendiri. Soal open-ended memberikan setiap siswa kesempatan untuk menemukan jawabannya sendiri.
4) Memberikan siswa pengalaman bernalar melalui kegiatan membandingkan dan diskusi dalam kelas, siswa sangat termotivasi untuk memberikan alasan dari jawaban-jawabannya kapada siswa-siswa lain. Kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan cara berpikir mereka.
5) Terdapat pengalaman kaya bagi siswa untuk menikmati kesenangan menemukan dan menerima persetujuan dari teman sekelasnya. Karena siswa memiliki jawaban sendiri maka siswa akan tertarik untuk mengetahui jawaban teman-temannya.
Pehkonen (1997) menyebutkan bahwa pendekatan pembelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kemampuan kreatif adalah pendekatan open-ended. Feldmann (2000) memberikan kriteria dalam mengevaluasi respon siswa dalam menyelesaikan soal yang bersifat open-ended. Dalam kriterianya Feldmann memberikan tujuh aspek penilaian yaitu pemahaman, kelancaran, fleksibilitas, keaslian, elaborasi, generalisasi, dan perluasan. Ketujuh aspek tersebut berkaitan dengan komponen-komponen dalam kemampuan berpikir kreatif.
Dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa, penulis memilih pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika berdasarkan pendapat bahwa pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kreativitas matematik di lingkungan sekolah adalah pendekatan open-ended (Hashimoto, 1997, Pehkonen, 1997, Nohda, 2001). Dengan demikian penulis meyakini bahwa pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika dapat memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematiknya secara optimal. Kemampuan berpikir kreatif matematik yang akan diukur dalam penulisan ini dipahami sebagai kemampuan-kemampuan yang meliputi kemampuan kelancaran, fleksibilitas, elaborasi, perluasan dan generalisasi.
Pendekatan open-ended dapat meningkatkan berfikir kreatif yang secara langsung menyangkut kreativitas siswa itu sendiri. misalnya seorang matematikawan yang menghasilkan formula/hasil baru dalam bidang matematika maka tidak dapat diabaikan potensi kreatifnya. Kreatif bukanlah sebuah ciri yang hanya ditemukan pada seorang seniman atau ilmuwan, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut Grai (2000) matematika sebenarnya merupakan pengetahuan yang tumbuh, berubah, diciptakan (sebagian mengatakan ditemukan) oleh seorang manusia. Melalui sejarah, individu kreatif membentuk ilmu pengetahuan yang disebut matematika tersebut.
Pandangan klasik tentang penemuan matematika dan penciptaan dalam matematika diungkapkan oleh Poincare (1952) dan Hadamard (1945). Mereka membahas pemecahan masalah kreatif matematika dalam 4 tahap yaitu tahap persiapan (menjadi terbiasa dengan masalah), tahap inkubasi (membiarkan pikiran mengerjakan masalah), tahap iluminasi (ketika gagasan yang mengarah pada penyelesaian suatu masalah diperoleh), dan tahap verifikasi (memeriksa bahwa jawaban tersebut benar). Pada saat perpindahan dari tahap inkubasi kepada tahap iluminasi sering terjadi dengan cara yang tidak terduga atau cara baru dalam memandang masalah. Seperti lahirnya fungsi-fungsi Fuchcian dari Henri Poincare, matematikawan Perancis, didahului oleh masa inkubasi berhari-hari sampai inspirasi datang secara mendadak pada saat beliau berekreasi.
Bishop (dalam Pehkonen, 1997) mengatakan bahwa dalam matematika seseorang memerlukan dua jenis berpikir yang saling komplemen yaitu berpikir kreatif yang disamakan dengan intuisi dan berpikir analitis yang disamakan dengan logika. Intuisi dikaitkan dengan visualitas dan logika dikaitkan dengan verbalitas.
Krutetskii (1976) menyamakan kreativitas matematika dengan keberbakatan matematika. Menurut Krutetskii, kreativitas dalam memecahkan masalah matematika dikarakteristikkan dengan kemampuan siswa dalam merumuskan masalah matematika secara bebas, bersifat penemuan dan baru. Ide-ide tersebut sejalan dengan ide-ide seperti fleksibilitas, kelancaran (fluency), membuat asosiasi baru, dan menghasilkan jawaban divergen yang berkaitan dengan kreativitas secara umum. Menurut Krutetskii fleksibilitas adalah komponen kunci dalam kemampuan kreatif matematik pada siswa-siswa sekolah.
Haylock (1997) membuat dua pendekatan untuk mengenali berpikir kreatif dalam matematika. Pertama dengan memperhatikan jawaban-jawaban siswa dalam memecahkan soal yang proses kognitifnya dianggap sebagai ciri berpikir kreatif. Pendekatan ini mempertimbangkan salah satu kunci proses kognitif dalam memecahkan masalah matematika secara kreatif yaitu mengatasi kekakuan (overcoming fixation). Pendekatan kedua adalah dengan menentukan kriteria bagi sebuah produk yang diindikasikan sebagai hasil dari berpikir kreatif atau disebut produk-produk divergen (divergent products). Berbagai jenis soal-soal produk divergen dapat dibuat dalam matematika. Soal-soal tersebut menghasilkan jawaban yang dapat dinilai dengan kriteria seperti fleksibilitas, orisinalitas, dan kesesuaian (appropriateness).
Pengertian kelancaran (fluency), fleksibilitas, dan keaslian (baru) dalam kreativitas umum diadaptasi dan diterapkan dalam pendidikan matematika oleh Balka (1974). Dalam penulisannya Balka meminta subyek penulisannya untuk mengajukan soal-soal matematika yang dapat dijawab berdasarkan informasi yang tersedia dalam sebuah cerita tentang kehidupan nyata. Berdasar analisa jawaban-jawaban subyek, Balka mengatakan bahwa fluency berkaitan dengan banyaknya jawaban atau pertanyaan yang dihasilkan, fleksibilitas dikaitkan dengan sejumlah kategori berbeda dari pertanyaan yang dihasilkan, dan keaslian dikaitkan dengan jawaban benar yang berbeda atau langka diantara semua jawaban yang ada. Dengan demikian berdasarkan penulisan Balka, kreativitas sebenarnya dapat digali dalam matematika.
Soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif umum, diperkenalkan pertama kali oleh penulis Amerika yaitu Guilford (1959) dan Torrance (1969) pada tahun 50-an dan tahun 60-an. Dalam soal jenis ini diberikan cerita open-ended yaitu cerita yang menghasilkan banyak jawaban benar. Soal-soal matematika yang mengizinkan siswa untuk memperlihatkan proses berpikir divergen atau kreatif telah banyak dikembangkan oleh para penulis (Pehkonen, 1992, Singh, 1992).
Silver (1997) mengatakan bahwa pembelajaran matematika yang mengandung aktivitas pemecahan masalah (problem solving) dan pengajuan masalah (problem posing) termasuk soal-soalnya dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan kreatif terhadap matematika. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan atau fleksibilitas), dan novelty (Kebaruan). Silver (1997) memberikan gambaran tentang kaitan pemecahan masalah (problem solving ) matematik dan pengajuan masalah (problem posing) dengan tiga komponen kreativitas.
Stanic dan Kilpatrick (1988) memperkuat pandangan ini, bahwa pemecahan masalah sangat erat terkait dengan sifat asli kegiatan matematika, dan kegiatan ini memberikan jaminan kuat untuk siswa mengembangkan kemampuan kreatif mereka terhadap matematika.
Berdasarkan pengertian kreativitas dan kaitannya dengan berpikir kreatif dalam matematika, penulis mengambil pemahaman bahwa aspek-aspek kemampuan berpikir kreatif yang dapat diakses dalam pemecahan masalah matematik meliputi aspek-aspek kemampuan kelancaran, fleksibilitas, dan elaborasi dan kebaruan. Kemampuan kelancaran dicirikan dengan kemampuan menghasilkan sejumlah jawaban benar dengan banyak ide atau dugaan. Kemampuan fleksibilitas dicirikan dengan kemampuan memberikan alternatif lain jawaban atau cara penyelesaian. Kemampuan merinci jawaban dengan jelas sebagai kemampuan elaborasi. Sedangkan Kebaruan dicirikan sebagai kemampuan siswa menghasilkan jawaban baru yang berbeda dengan jawaban-jawaban siswa lain pada umumnya.
Haylock (1997) memberikan contoh-contoh tugas matematika yang dirancang untuk mengenali berpikir kreatif dalam matematika untuk siwa usia 11 sampai 12 tahun. Haylock membuat tugas-tugas matematika tersebut dalam dua kategori. Dalam kategori pertama tugas dimaksudkan untuk melihat kemampuan untuk mengatasi kekakuan (overcoming fixation), sedangkan kategori kedua tugas dimaksudkan untuk menghasilkan produk-produk divergen yang diindikasikan dengan kefleksibelan dan keorisinilan jawaban-jawaban siswa. Contoh-contoh soal open-ended yang sesuai untuk siswa sekolah dan pembahasan tentang isu-isu penting dalam menggunakan soal terbuka diberikan oleh Nohda (1995), Pehkonen (1995) dan Stacey (1995).
Yee (2002) dalam tulisannya, memberikan gambaran pengalaman-pengalaman guru SD di Singapura dalam menggunakan soal-soal open-ended pendek (short open-ended problem) yang dapat membuat siswa memperlihatkan pemikiran dan pemahaman konsep matematik dengan beragam cara. Hasil kesimpulannya menyebutkan bahwa para guru merasakan keuntungan dalam menggunakan soal open-ended pendek. Dengan pendekatan tersebut mereka dapat melihat cara berpikir siswa daripada cara berpikir guru sendiri dan juga dapat membantu siswa menyadari banwa pemahaman dan penjelasan matematik adalah aspek penting dalam matematika.
Penelitian Yaniawati (2000) terhadap siswa kelas 2 di salah satu SMU di Bandung menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematik siswa yang belajar dengan pendekatan open-ended mengalami peningkatan. Dahlan (2004) dalam penelitiannya terhadap siswa kelas 2 SLTP di Bandung menyimpulkan bahwa kemampuan pemahaman dan penalaran matematik siswa yang belajar melalui model pembelajaran open-ended dengan strategi kooperatif memiliki kualitas yang cukup baik.
Hu dan Adey (2002) telah mengembangkan tes kreativitas ilmiah untuk siswa sekolah menengah. Hu dan Adey melakukan penelitian dengan subyek 160 siswa sekolah menengah di Inggris. Instrumen yang digunakan disebut Scientific Creativity Structure Model (SCSM) yang dibuat berdasarkan analisis makna dan aspek-aspek kreativitas ilmiah yang ditemukan dalam literatur. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa kreativitas ilmiah siswa sekolah menengah meningkat menurut usianya dan bahwa ilmu sain penting tetapi tidak cukup untuk kreativitas ilmiah.
Beberapa hasil penelitian dijelaskan di atas dapat dipahami bahwa Kemampuan kreatif yang sifatnya penting dan selama ini kurang terperhatikan selama pelajaran matematika dapat digali dan diungkap melalui metoda pembelajaran pendekatan open-ended. Kemampuan kreatif matematik sangat menarik untuk ditelaah khususnya dalam bidang matematika. Kreatif tidak hanya ditemui dalam karya seni atau musik saja, atau pada seniman atau ilmuwan saja akan tetapi dapat ditemui pada kegiatan siswa sehari-hari dalam belajar di sekolah khususnya matematika.
PENUTUP
Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan open-ended memiliki manfaat positif baik bagi guru maupun siswa. Pembelajaran dengan pendekatan open-ended yang berdasar kerangka teoritisnya dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan dapat memperbaiki kemampuan kreatif matematik siswa.
Bagi guru yang menggunakan pendekatan open-ended sebaiknya perlu memperhatikan penyusunan bahan ajar yang akan dipakai dengan menambahkan lebih banyak soal tidak rutin dan terbuka. Melalui pemberian soal-soal yang bersifat terbuka, siswa dapat mengembangkan kemampuan menghasilkan jawaban atau cara penyelesaian beragam dalam menyelesaikan masalah. Kondisi pembelajaran demikian dapat mengembangkan kemampuan fleksibilitas siswa yang merupakan komponen penting dalam kemampuan berpikir kreatif. dengan demikian soal-soal yang tidak rutin dan terbuka dapat merangsang siswa untuk menyelesaikan masalah dengan kreatif
Dalam proses pembelajaran pendekatan open-ended, guru dapat membangun suasana diskusi dan tanya jawab dalam kelas. Suasana kelas yang demikian dapat membantu membiasakan siswa untuk ikut terlibat aktif dalam kelas serta dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk memberikan pendapatnya. Dengan demikian selain dapat melibatkan siswa dalam proses berpikir, pembelajaran ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Edisi Revisi V. Jakarta: Rineka Cipta.
Badger, E. dan Brenda, T. (1992). “Open-Ended Question in Reading” Practical Assessment, Research & Evaluation. 3 (4)
Carin, A.A. & Sund, R.B. (1975). Teaching Science through Discovery. Ohio: Charles E. Merril Publishing Company.
Cropley, A.J (1992). More Ways than One: Fostering Creativity. Norwood, New Jersey: Ablex Publishing Co.
Feldmann, M.B. (2001). Open-Ended Math Project. EDU658. [Online]. Tersedia: Http://www.nku.edu/~mathed/fifthgradeproblp.pdf.
Grai, D. (2000). Creativity and Mathematics [Online]. Tersedia: http://www.uh.edu/hti/cu/2000/v02/02.htm [15 September 2005]
Harris, R. (1998). “Introduction to Creative Thinking”[Online]. Tersedia: http://www.Virtualsalt.com [20 Desember 2004].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar